Sesuatu yang tertunda #2

Masih tentang hal-hal yang belum selesai. Di malam pergantian tahun kemarin, buku-buku ini mengadu, nada mereka beragam namun kata-katanya nyaris sama, “Kapan Kau akan mencumbuku lagi?”

Posted in Curahan Otak | Leave a comment

Sesuatu yang tertunda

Wahai, Diri! Ingatkah Kau pada dua belas purnama yang melambai kala gerbong terakhir itu berangkat?
:pada senyum cantik, bijak, dan rahasia itu. Pada wajah-wajah buku yang tertunda kecupmu. Pada janji-janji untuk Tuhan-mu. Pada lingkar lengan perempuanmu.
Katamu, angka-angka itu semua baik, indah, dan sarat arti. Namun ganjil selalu memenuhi genap, dan genap selalu bermakna utuh, seperti purnama kedua belas yang mengangkat topi di ujung pertemuan itu.
Semoga.
Bila ganjil hanya mengantarmu pada genap, genaplah yang akan mengejawantahkan segala mimpi. Mimpi-mimpimu, Diri!

2nd January 2015

Posted in Berbagi Rasa | Leave a comment

Kedatangan

Hati terlanjur buncah kala kau tiba
Berbahagialah, katamu
Langit-langit ini biar ku gantikan dengan taung
niscaya malam-malamu hilang gigil. Lalu
apa sajakah yang dapat kau hidangkan dari sebelas purnama
yang kutinggalkan, tanyamu

1st Ramadhan 1435H

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Sedikit Menyoal Pemilu Kemarin

Pemilu untuk memilih wakil rakyat selesai digelar. Seperti yang saya duga, banyak orang yang tidak mengenal para calegnya. Wajar saja, para caleg mendadak dekat dengan rakyat saat-saat menjelang pemilihan saja, masa-masa kampanye, barulah mulai ramai-ramai semua beramal, ramai-ramai berbuat kebaikan, ramai-ramai blusukan guna mendengar keinginan rakyat—ya, mungkin sekedar mendengar tidak sulit—, berlomba-lomba membikin janji dan tak henti-henti mengajak (memohon, mengemis, mengiba…) agar rakyat memilihnya. Puncaknya calon wakil kita ini menggelar dangdutan bersama, bersama artis-artis cantik, sambil tetap berkoar-koar “Pilih saya! Pilih saya! Saya ingin kaya! Rumah mewah! Simpanan dimana-mana!” Uppss.. itu iklan ya, hehe. Continue reading

Posted in Berbagi Cerita | Tagged , | Leave a comment

Sajak Perindu

Aku tinggal di pelipismu
Ketika hujan merentangpeluk, merayu
pangkal syahwatmu—seperti
yang ia perbuat pada Bapa Ibu kita, di awal cerita.

Aku dibalik buah-dadamu
Begitu pusaran jantungmu riuh, memecah
gemuruh pada urat-urat robek bekas sulaman jarimu.

Aku bertapa di satu tempat, dimana kau
menolak menjadi hamba
“Perindu itu abadi”, katamu
Dan kau masih
dan akan selalu menjadi

Akulah kerdip lilin
Sewaktu kau menolak ‘pecinta’ yang ditawarkan hujan
hingga senja mengantarkan Kekasihmu menemu aku, disini
di palung-hatimu. Lalu
ujung napas membebaskan laramu dengan lembut, kelak

Aku hadir di ingatanmu
saat hurup-hurup tak lagi sanggup mewujud kata
aku yang memapahmu: “Pe-cin-ta
a-da-lah ham-ba”. Kita
abadi

19th October 2013

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | 4 Comments

Nojer ka Gunung Parang

Dinten minggu kamari abdi saparakanca nojer bareng, rute nu disorang nyaeta Purwakarta – Plered – Gunung Parang – Sela Awi – Purwakarta, jarakna kirang-langkung tujuh puluh kiloan. Wanci haneut moyan peserta anu mikacinta gowes (atanapi nojer) atos ngarumpul, tepatna payuneun Dealer Kawasaki (Sentosa Motor/ Sentosa Bike). Bubuhan diluluguan ku jeger kahot (maksadna jeger tina perkawis nojer) teu burung perserta teh kaetang seueur, dua puluh jalmi mah moal kirang, perserta diantawisna ti Grup Puma, Grup Pa Erte, sareng umum, sesana weh atlet-atlet Sentosa (Amin, Dikdik, Koko, Lela, Dinda, sareng nu laina—teu apal sadaya tuda, hihi). Continue reading

Posted in Berbagi Cerita, Gowes | Leave a comment

Persembahan terakhir

ciuman subuh yang membekas pada dinding pagi
masih menyisakan elegi, lembut seperti bibirnya

Pangkalpagi, 04:19

Posted in Berbagi Rasa | Leave a comment