Category Archives: Berbagi Rasa

Sebuah botol bertuliskan Elizabeth Green Tea

Ada getir yang menggeletar, saat menemukanmu kembali pada pagi yang gugur. Terjebak dalam ruang yang kilau tempat kau menampung titik-titik air mata untuk menyulam pelangi. Udara lampau membisikan elegi, lirih sekali. Memelukku dengan ganjil, lalu melepaskan satu persatu benang perekat … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | 1 Comment

Wajah

Kita bisa menemukan cermin pada wajah-wajah orang di jalanan: pada rupa tergesa dengan panji tingi-tinggi, atau muka huru-hara yang berurat keseakanan menunggangi wajah demi wajah, atau wajah bisu para musyafir yang lupa cara membuka mata atau tertinggal bersama hewan gembala, … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Sebelum senja tiba di beranda

Sebelum pelangi menumpahkan isi dadamu, dan kaki-kaki gerimis melangkah jauh. Sebelum waktu membuat jeda, dan burung-burung merindukan sarang. Sebelum pelukan senja berubah dingin, dan pikiranmu tak sempat memahaminya. Sebelum sepi meriap, dan menjadikanmu teka-teki yang bunyi heningnya paling nyaring. Sebelum … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Rindu

Betapapun rupa cinta yang Kau rahasiakan itu mewujud kata, hurup-hurup manakah yang akan Kau tinggikan. Betapapun rindu ini berubah luka, berapa ribu cahaya lagi isi dada ini terus akan Kau basuh, berapa laksa malaikat lagi yang Kau titah luruhkan hitam … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged , | Leave a comment

Penebus Rindu

Akan selalu kuingat, perjalanan ke bulan yang telah lama kunanti Saat waktu begitu purba, kata-kata luruh dalam dimensi yang baru saja kutemu, sengit dalam teka-teki tentangmu, tentangku Kapan kita akan sampai, Puan? Pada daratan sunyi yang dengan payah telah kau … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Pertapa yang merindukan matahari

hari tak lagi sama, waktu hanyalah perjalanan teka-teki penyekap bara rindu, penyulut angin sepi ada sapa yang kian asing, syukur yang menyublim dalam kabut pagi yang likat tak ada lagi garis senyum di wajah waktu, simpul yang selalu dicemburui bunga-bunga … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Sesuatu yang tertunda

Wahai, Diri! Ingatkah Kau pada dua belas purnama yang melambai kala gerbong terakhir itu berangkat? :pada senyum cantik, bijak, dan rahasia itu. Pada wajah-wajah buku yang tertunda kecupmu. Pada janji-janji untuk Tuhan-mu. Pada lingkar lengan perempuanmu. Katamu, angka-angka itu semua … Continue reading

Posted in Berbagi Rasa | Leave a comment