Sedikit Menyoal Pemilu Kemarin


Pemilu untuk memilih wakil rakyat selesai digelar. Seperti yang saya duga, banyak orang yang tidak mengenal para calegnya. Wajar saja, para caleg mendadak dekat dengan rakyat saat-saat menjelang pemilihan saja, masa-masa kampanye, barulah mulai ramai-ramai semua beramal, ramai-ramai berbuat kebaikan, ramai-ramai blusukan guna mendengar keinginan rakyat—ya, mungkin sekedar mendengar tidak sulit—, berlomba-lomba membikin janji dan tak henti-henti mengajak (memohon, mengemis, mengiba…) agar rakyat memilihnya. Puncaknya calon wakil kita ini menggelar dangdutan bersama, bersama artis-artis cantik, sambil tetap berkoar-koar “Pilih saya! Pilih saya! Saya ingin kaya! Rumah mewah! Simpanan dimana-mana!” Uppss.. itu iklan ya, hehe.

Di tempat tinggal saya, ada seorang mantan kepala desa yang mencalonkan diri menjadi caleg. Sewaktu menjabat, ia diberhentikan dengan tidak hormat, digusur oleh masyarakatnya sendiri melalui demonstrasi karna terbukti melakukan korupsi. Saat ini ia bergabung dengan partai besar, dan sepertinya optimis bakal menang. Orang awam seperti saya cuma bisa bilang “Kok bisa ya?”—terang saja bisa, lah wong Aceng Prikitiw aja bisa nyalon. Seperti yang lain, ia juga mengunjungi rumah-rumah penduduk untuk mengajak kampanye, membagikan uang tiga puluh ribu rupiah perkepala. Kemudian massa bayaran itu dikumpulkan dilapangan terbuka, untuk apalagi kalo bukan dangdutan bersama.

Dan bukan lagi rahasia kalau orang yang kampanye itu ya orangnya itu-itu juga, hari ini memakai kaos biru, besok kuning, besoknya lagi merah, dan seterusnya.

Alangkah lucunya negri ini.

Di lain waktu, Ketua RT pernah mengunjungi rumah guna melakukan pendataan pemilih, dia cukup banyak berbincang dengan Bapak saya, dan setelah beberapa lama, tak saya duga, ujung nada pembicaraan sedikit melemah dan cenderung berbisik, “Pilihlah nomer ini, dari partai ini, jangan sampai salah pilih!” sambil menyerahkan beberapa kaos, stiker, juga kerudung berwana partai. Saya cuma bisa tersenyum.

Ya, seperti inilah negriku.

Bisa dibayangkan, adakah rasa simpati untuk para calon wakil kita ini? Adakah salah jika tak ada satupun yang kita pilih? Golput harom! Lantas mau memilih wakil yang baru kita kenal saat musim kampanye? Percayakah Anda pada orang yang baru anda kenal, tapi sudah mengumbar janji, tapi cara kampenye timnya penuh dengan intrik, bayar massa, …? Apalagi yang jelas-jelas sudah terbukti keburukannya. Kenapa bisa jadi caleg? Yang salah siapa?

Meningkatnya angka golput menurut saya salahsatunya adalah bentuk ketidakpuasan masyarakat terhadap sistem kampanye yang seperti ini.

Beruntung jika kita sudah mengenal caleg kita sebelum dia mencalonkan diri. “Oh.. si anu juga nyaleg ya, dia mah santun, sederhana, aktif di yayasan sosial, dia kan yang bikin PLTA sendiri untuk desanya karna listrik PLN tidak sampai kedesanya, malah dengan uang sendiri, warga juga ga perlu bayar, setelah lulus S2 dia juga sering jadi pembicara di seminar-seminar sosial, dirumahnya dia juga suka ngajar ngaji, beruntung sekali kalo kita punya pemimpin seperti dia, saya pasti milih dia, calon pemimpin sejati”.

Jika ditempat tinggalmu ada calon wakil rakyat yang seperti itu, maka beruntunglah Anda.

Selanjutnya saya hanya punya sedikit saran—dan entah untuk siapa. Daripada para caleg mengenal rakyat hanya pada waktu musim kampanye, dengan hura-hura, dangdutan dan sebagainya, daripada mengumbar janji hingga mulut berbusa, lebih baik rubahlah sistemnya. Caleg yang akan mengikuti pemilu minimal 5 tahun yang akan datang, diwajibkan untuk membuat program dan melaksanakannya. Tidak sekedar visi-misi yang diumbar seperti aurat. Nanti rakyat bisa menilai sendiri siapa yang sukses dengan programnya, siapa calon pemimpin yang konsisten, jujur, dan berkualitas. Tidak perlu mereka menawarkan diri dan mengajak untuk dipilih, rakyat akan memilih. Bayangkan, jika ada sepuluh caleg saja yang mengikuti pemilu dengan berbagai programnya, paling tidak sudah ada sepuluh pembangunan yang konkret untuk negri ini dalam waktu 5 tahun, tinggal caleg yang menang melanjutkannya. Cmiiw.

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s