Sajak Perindu


Aku tinggal di pelipismu
Ketika hujan merentangpeluk, merayu
pangkal syahwatmu—seperti
yang ia perbuat pada Bapa Ibu kita, di awal cerita.

Aku dibalik buah-dadamu
Begitu pusaran jantungmu riuh, memecah
gemuruh pada urat-urat robek bekas sulaman jarimu.

Aku bertapa di satu tempat, dimana kau
menolak menjadi hamba
“Perindu itu abadi”, katamu
Dan kau masih
dan akan selalu menjadi

Akulah kerdip lilin
Sewaktu kau menolak ‘pecinta’ yang ditawarkan hujan
hingga senja mengantarkan Kekasihmu menemu aku, disini
di palung-hatimu. Lalu
ujung napas membebaskan laramu dengan lembut, kelak

Aku hadir di ingatanmu
saat hurup-hurup tak lagi sanggup mewujud kata
aku yang memapahmu: “Pe-cin-ta
a-da-lah ham-ba”. Kita
abadi

19th October 2013

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Rasa and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sajak Perindu

  1. Zaharudin says:

    grogi gimana, teh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s