Perbedaan “Guru” dan “Dosen Professional”


Saya ingin memakai kata “guru” bukan untuk menamai sebuah profesi, sebab selain itu, saya yakin dia akan kalah arti oleh kata “dosen”. Sederhananya, seorang dosen belum tentu bisa dikatakan guru, tetapi seorang guru mungkin saja berprofesi sebagai dosen. Dalam hal ini saya tidak akan mempersoalkan profesi karena keduanya pun tujuan awalnya sama yaitu mendidik, tetapi ini soal sikap. Baik, mari kita perhatikan uraian berikut:

  • Dosen professional hanya menyampaikan materi kuliah. Sedang guru mengajarkannya
  • Dosen professional memperbesar jarak antara si pintar dan si bodoh. Seorang guru berusaha menghilangkan jarak itu 
  • Dosen professional akan kenal baik dengan murid cemerlang tetapi tak pernah hafal nama-nama muridnya yang terbelakang. Pandangan seorang guru: anak pintar tak perlu pujian apalagi reward tambahan karena dengan sendirinya ia sudah mendapatkan semua itu, sebaliknya anak bodoh yang lebih membutuhkan perhatian khusus agar bisa sejajar dengan anak-anak pintar.
  • Dosen professional tak akan peduli dengan muridnya yang terbelakang. Seorang guru akan selalu mencari metode untuk memajukan muridnya yang terbelakang.
  • Dosen professional akan melahirkan beberapa bintang kelas. Seorang guru akan menjadikan semua anak didiknya bintang.
  • Dosen professional akan sulit ditemui muridnya selain diruang kelas. Seorang guru akan menyediakan waktu untuk muridnya.
  • Seorang guru bisa menjadi dosen. orangtua, dan sahabat sekaligus. Dosen professional tetaplah dosen.
  • Seorang guru dicintai semua muridnya. Dosen professional hanya disukai oleh anak yang pintar saja.
  • Ditangan dosen professional, murid bodoh bisa jadi akan tetap berpikiran kerdil dan lulus sebagai sarjana yang tidak jujur, pandai memakai topeng, dan dikemudian hari jika ia menjadi pejabat, ialah pejabat yang korup. Ditangan guru, murid yang dahulunya bodoh akan berpemikiran terbuka, kritis, bertanggungjawab, dan memiliki beberapa karakter baik yang ditularkan oleh gurunya.
  • Dosen professional akan mencetak para intelektual yang kaku. Guru kebalikannya.
  • Dosen professional akan bangga jika salahsatu saja muridnya ada yang lulus dengan predikat cumlaude. Seorang guru akan merasa gagal jika ada salahsatu saja muridnya yang lulus dengan nilai buruk.
  • Setelah lulus, dosen professional tak akan lagi punya tempat di ingatan murid-muridnya. Ketika seorang murid telah sukses, orang pertama yang mendapat ucapan terimakasih adalah gurunya.
  • Dosen professional dengan mahasiswanya memiliki keterikatan profesi. Guru dan muridnya mempunyai keterikatan emosional.
  • Dosen: profesi, pekerjaan, matapencaharian. Guru: predikat, pengabdian, penghargaan.

Dari beberapa uraian tersebut, saya ingin mengajukan satu pertanyaan, jika Anda berprofesi sebagai dosen, apakah Anda termasuk “dosen professional” ataukah “guru”?

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Pikir and tagged , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Perbedaan “Guru” dan “Dosen Professional”

  1. iwan sain says:

    Nampaknya anda belum tahu ttg dosen professional…

  2. iwan sain says:

    Nampaknya blm ngertu ttg dosen professional

  3. jujur…saya bingung knp diskripsi dosen profesional kyk gt ya? dosen dan guru ya pendidik profesional dijenjang yg berbeda. guru mengajar dan mendidik. klo dosen mentransfer iptek, mendidik, meneliti dan mengabdi dgn masyarakat. setahu saya sih begitu.

  4. jokolelono says:

    Sebaiknya baca referensi dulu kalau nulis, biar tidak menyesatkan orang…haha..mungkin in hanya ungkapan dari seorang mantan mahasiswa yg kecewa sama dosennya…

    • Zaharudin says:

      Terimakasih banyak 🙂 sebaiknya perhatikan lagi ada di ranah mana tulisan saya ini. Orang yang tersesat sejatinya hanya terburu2 menyimpulkan sesuatu

  5. Pingback: 2 PERBEDAAN PROFESI DALAM 1 BIDANG YANG SAMA. | kamalyasya

  6. faisal says:

    Saya cenderung setuju dengan tulisan ini. Saya lebih cepat mengingat guru-guru saya waktu sekolah, sedangkan dosen tidak ada yang saya ingat.
    Itu yang komentar negatif, kemungkinan para “dosen professional” yang tersinggung…

  7. Ani widuri says:

    Dear penulis,
    Saya baca kok isinya judge dosen banget.. akan coba saya luruskan pemahaman anda, tetapi ini tidak bermaksud merndahkan pihak lain,.

    Dosen professional hanya menyampaikan materi kuliah.
    Artinya dosen hanya memberikan pilihan kepada anak didiknya yg iklhas n senang hati. tidak memaksa, yang penting sudah disampaikan mau di amalkan ato tidak itu adalah pilihan masing2 orang.

    Dosen professional memperbesar jarak antara si pintar dan si bodoh. Apabila ini terjadi artinya orang yang bodoh telah memilih menjadi si bodoh. Dan si pintar telah memilih menjadi si pintar. kenapa ada jarak?
    Karena mereka beranggapan bahwa orang lain tidak sama dengan dirinya. Berarti mereka yang memilih menjadi si bodoh tidak percaya Allah. Karena di mata Allah semua sama. Apakah anda adalah di bodoh?

    Dosen professional akan kenal baik dengan murid cemerlang tetapi tak pernah hafal nama-nama muridnya yang terbelakang.
    Kenapa itu terjadi mungkin anda merasa menjadi sibodoh yang malu dengan dosen atau enggan menjadi sipintar karena anda telah memilih menjadi sibodoh.

    Dosen professional tak akan peduli dengan muridnya yang terbelakang. Dosen selalu mendorong anak didiknya tidak terbelakang. jadi dosen akan lebih peduli dengan orang yang tidak terbelakang. karena orang yang beruntung adalah orang yang lebih baik dari hari kemarin, jadi jika akan tidak berubah lebih baik anda telah membuat waktu menjadi tidak bermakna.

    Dosen professional akan melahirkan beberapa bintang kelas. Kenapa ini terjadi karena dosen akan menghargai orang yang mau menghargai dirinya dsendiri. Bagaimana orang akan peduli dengan dirinya sedangkan mereka sendiri tidak peduli pada dirinya sendiri.

    Dosen professional akan sulit ditemui muridnya selain diruang kelas.
    Saya samapaikan bahwa bukan sulit, tetapi seorang dosen menemukan temannya di luar krlas. Sehingga semua murid yang td dikelas dapat berteman di luar kelas dengan dosen tanpa ada jabatan yang memisahakan mereka., Mereka bebas berdiskusi atau berorganisasi.

    Dosen professional hanya disukai oleh anak yang pintar saja.
    Bagaimanna anda bisa mengatakan ini?
    Bukti apa yang anda punya. Apa diri anda sendiri?

    Ditangan dosen professional, murid bodoh bisa jadi akan tetap berpikiran kerdil dan lulus sebagai sarjana yang tidak jujur, pandai memakai topeng, dan dikemudian hari jika ia menjadi pejabat, ialah pejabat yang korup.
    Apakah anda penah kuliah?
    Apakah anda diajari untuk tudak jujur, bertopeng dan korupsi selama kuliah. jika iya dimana anda kuliah dan segeralah bertobat. karena seorang dosen tidak pernah mengajarkan anak didik menjadi orang yang penakut dan bodoh.

    Dosen professional akan mencetak para intelektual yang kaku.
    Dimana ada dosen mencetak intelktual yang kaku?
    Semua dosen mengajarkan analisa dan berpikir jauh kedepan. jika anda menjadi pribadi yang kaku, coba tanyakan kedosen anda seperti apa pandangan dosen anda saat mengajar anda.

    Dosen professional akan …. dengan predikat cumlaude.
    Kenapa ini terjadi?
    Karena dosen telah mengajarkan materi yang sama dg waktu belajar yang sama. Tetapi kenapa ada yang culaude? Karena mereka peduli dengan dirinya, dan merasa butuh dengan ilmunya jadi mereka yang cumlaude telah belajar lebih dari yang tidak cumlaude.

    Selamat belajar dan jangan takut untuk melanjutkan sekolah yang setinggi tingginya buat kamu yang mau sekolah. Dan jangan pernah takut karena saat kamu bertemu dosen anda tidak akan pernah di bentak dipukul.
    😉😉😉
    Guru dan dosen adalah pendidik yang sangat kita tunggu kehadirannya.

    • Zaharudin says:

      Wah.. Bagus sekali komentarmu, terima kasih banyak 🙂
      Ini tulisan lama tapi masih tetap eksis ya, 😁
      Begini Ani, mungkin anda hanya membaca hanya sekilas seperti pembaca lain pada umumnya, sebetulnya saya tidak membandingkan antara dosen dan guru, tapi saya sedang mengkritisi dosen itu sendiri. Menurut pemahaman serta pengalaman saya, dosen itu bisa dibilang minimal memiliki dua tipe yaitu “dosen profesional” dan “guru”. Jangan abaikan tanda kutip itu. Dan sekarang coba baca lagi tulisan saya. Nanti bolehlah kita diskusikan lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s