Kemarin, hari ini, dan esok


Mutiara yang membiak dikepalaku, adalah huruf-huruf kecil yang terserak, kupunguti diantara jejak-jejak rencana kecil kita lalu kupanggil ia “kekasih terkasih”. Biar kuuntai ia dengan sisa tawa, dengan sumbu sehelai peri yang masih hangat, likat, beberapa tetes air mata yang diawetkan sebagai pemanis tentunya. Adalah mahar termanis diatas jabat tanganku dan nisanmu yang putih kemerah-merahan “apa kau bahagia?” sebelum buku kesatu kau tutup, catatlah, sebelum senja betul-betul membungkus kita dengan indah

Hari ini adalah pagi, setelah badai pekat yang limbung diatas kamarku sepertinya tak pernah merelakan aku terlelap barang sejenak, aku bangkit, beristirahat diantara jeda masa yang tak kau ketahui. Kau tak akan pernah menemukan sisa badai di wajahku atau di senyumku karena sembilan puluh sembilan malam buatku tak lebih berarti buatmu, jangan pula kau berpikir ihwal tuksedo abu muda yang kukenakan pagi ini.

Senja kali ini merajuk, sebab kehadirannya tak dirasa lebih indah dari wajahmu yang terlalu lama terhampar, satu langkah didepan jalanan yang hendak kupijak lalu semua jejak itu kau ikat sendiri. Katamu senja kali ini tak lagi menjadi jeda babak-babak hidup, tak ada sebelum atau sesudah, tak ada yang harus kau buang atau kau pungut sesukamu, apa hendak kau ingkari pula ketentuan-Nya?

Sebenarnya saja dengan apa mesti kupercaya, sedang kau tak pernah mencecap rasa apa yang ia sungguh rasa—senja itu

Bulan yang hampir penuh malam ini rupanya menangkap juga wajah risauku, diajaknya kau beristirahat di teduh cahanya, isyaratku adalah keputusan. Sebagai pohon sebatangkara begini, kuharap matahari esok akan bersinar lebih hangat dan diri ini bukan lagi kepunyaanku, pun kau, jangan gusar. Mutiara yang memenuhi kepalaku, perjalanan panjang yang kau hantui, dan segala senyum yang kuambil dari jeda masa yang tak kau ketahui itu, adalah pengabdianku pada yang terkasih. Adalah mereka yang memerlukan daunku, membutuhkan dahan dan rantingku, mengagumi lembut-kuatnya akarku, atau menginginkan harum bungaku, tak ada kubedakan.

27th September 2013

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Rasa and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kemarin, hari ini, dan esok

  1. Lusi says:

    bagus banget…
    meskipun tidak begitu paham apa yang tersirat, tapi aku menyukai jalinan kata-katanya…
    aku merasa begitu pandir…

  2. knayank says:

    Sayang dia ga baca ini.. betapa hancurnya hatimu saat itu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s