Kemarin


Kemarin, sengaja saya meminta cuti kerja sebab ada keperluan urgent. Waktu pembayaran kuliah sudah masuk deadline, sementara info terakhir dari staff kampus: belum bisa melakukan pembayaran via transfer bank. Berarti jauh-jauhpun, tak bisa ditawar lagi saya kudu datang ke kampus.

Ada rencana kecil sudah dipersiapkan dari rumah: mendaftar keanggotaan library dan bersantai-santai disana hingga sore hari menjelang, mau nanya-nanya mengenai English club, ingin tahu juga keberadaan kelas seni.

Sesampai di kampus, mereka bilang sudah tidak bisa melakukan pembayaran ditempat, dan harus via transfer bank. Mengejutkan. Sekaligus, ah … “Saya dari luar kota loh inih …” tak bisakah memberikan informasi sebelumnya? sms gateway-nya apa kabar, hei … kemarin-kemarin masih berfungsi. Dan seketika pupus sudah rencana-rencana kecilku yang disusun bersama bulatan merah di upuk timur tadi pagi. Berang. Kok amatiran sekali.

Segera saya mencari bank terdekat. Tapi memang gusar diri itu membawa masalahnya sendiri, kok bisa-bisanya salah turun dari bis kota, mau naik lagi tanggung, jalan juga lumayan, hehe. Hati dongkol dibawa jalan tak ayal berkeringat juga. Singkat cerita, keluar dari bank, gusar belum juga mereda, sekalipun suasana dan pemandangan di dalam tadi semestinya lebih dari cukup—jika dalam keadaan normal—membuat adem badan maupun hati. Saya naik lagi bis kota berniat pulang. Duduk sendiri dipojok, ingin segera keluar dari kegusaran sendiri.

Lima belas menit kemudian, naiklah seorang ibu muda Tionghoa bersama dua anak perempuan bersetelan SD putih merah, mungkin usia bocah-bocah itu terpaut antara satu-dua tahun. Anak yang lebih besar berambut panjang berwarna sedikit pirang diuntai kepang cantik sekali, sedang yang satunya—aku pikir ia adiknya—terlihat bergelondot terus tak bisa diam—rambutnya juga sedikit pirang, lebih pendek dan tak terlalu aku perhatikan—ia tak bisa jauh dari ibu muda Tionghoa itu. Ah, anak-anak kecil selalu bisa membawa keceriaan tak kenal waktu maupun tempat. Anak yang paling kecil, bocah lucu bermata sipit dan yang tak bisa diam itu, ia pindah kursi—sedang ibunya juga kakaknya cuma diam—ke samping kanan, kedepannya, kebelakang lagi, hingga akhirnya duduk juga disampingku. Ia menatap wajahku. Aku, sejujurnya sulit menahan diri untuk tidak memberi senyum pada anak-anak kecil sambil sekedar say: hi, apalagi pada seorang bocah selincah dan secantik ini. Lupa pada sakit gusar sendiri, senyumku ramah mengembang, ia membalas senyum lalu tersipu sendiri. Ahoi, lucu sekali … ingin kulingkarkan lenganku ditubuh kecilnya sambil mengusap-usap kepalanya, sebentaar saja, hihi. Tak lama setelah itu ibunya memanggil dan mereka segera turun.

Kesenanganku hilang, tapi suasana hatiku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku pikir ini sedikit tidak rasional, tapi aku merasa beruntung sekali, obat gusarku tak perlu biaya mahal 🙂 Thanks my God, mudah sekali bagi-Mu untuk membulak-balikkan hati manusia.

Hei orang rumah, saya pulaang!

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s