Di Gerbong Kedua


Kita berdua saja mulanya, kau: sebotol air mineral
dan aku
Kita larung dalam debat sunyi yang panas
Ini stasiun keberapa? Tanyamu
Sementara peluh dan kantuk bertukar kaos oblong, sulur-sulur rel menjaja diri
“Kau lihat itu!” ujarku. “Tubuhnya liat, tabah.” Terlalu bising untuk menjadi aku, bisiknya
Kau memang jelata sejati, kemana empat inderamu yang lain? Sahutku
Sedang kau pucat, wajahmu mengembun
setelah isi tubuhmu kandas pada tegukan terakhir, dan
bibirmu masih terasa rikuh
Kini suaramu nyaring. Angin nakal yang menggodamu dari celah kaca jendela
Aku cemburu
Sudah sampaikah kita? Tanyamu lagi
Kualihkan cemburu pada puisi: Hujan Bulan Juni; embun diwajahmu mulai kering
Tanyamu habis? Isyaratku tiba-tiba
Kau melengos ke celah jendela, mengangkat peluit dan memuntahkan jelaga ke udara
“Turunkan aku di stasiun berikutnya!”

10th August 2013

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Rasa and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Di Gerbong Kedua

  1. luvzie says:

    waw..puisinya bagus banget…keren…
    5 jempol untuk anda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s