Muhasabah


Mungkin kita telah banyak mendengarkan tausiah—baik melalui media atau langsung bertatap muka dengan para Kiayi, Ustadz, Ustadzah, dll—yang menyeru-nyerukan agar menjauhi perbuatan zalim, tentu dengan gaya dan cara mereka masing-masing. Tapi saya sangsi mereka—atau kami atau kita—yang diseru itu sepenuhnya dapat memahami apa itu zalim.

Beberapa ahli bahasa mendeskripsikan zalim sebagai “wadl’u syai’a fi ghairi mahallihi” yaitu meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sementara itu padanan kata zalim yang disebutkan dalam Al-Quran adalah baghyu yang juga sama maknanya dengan zhulm yaitu: melanggar atau merampas hak orang lain.

Membahas kata zalim tidak sesederhana membedakan benang merahnya haq dan bathil, hitam dan putih, terkadang kata ini bisa berada pada ranah keduanya, pada dikotominya sendiri, dan kenyataannya kita seringkali tak bisa lebih peka. Tak usah dulu berpikir jauh, menurut Ustadz Muhammad Joban: contoh kecilnya, shalat jum’at saja bila sampai menggelar karpet—karena kapasitas masjid tidak mencukupi—hingga ke jalan, dan pengguna jalan merasa terganggu, itu sudah termasuk perbuatan zalim.

Tidak sadarkah kita jika bunyi sendawa kita saja bisa membuat orang yang mendengarnya mual? Masihkah tak mau peduli pada orang lain yang semobil denganmu yang menghirup udara busuk yang keluar dari lubang kotoranmu, dan kamu lebih memilih kata sehatmu sendiri? Bagaimana dengan bau badanmu, masihkah tak ingin peduli dengan perasaan orang lain yang tak sengaja menciumnya? Bagaimana dengan muka angker yang kita kenakan untuk berjumpa dengan orang-orang? Bagaimana dengan hati yang berduga-sangka pada orang lain? Bagaimana dengan menegur atau menasehati orang dimuka umum? Bagaimana dengan ikut-ikutan menghakimi seseorang atau suatu kaum hanya karena sejumlah berita yang belum tentu kebenarannya, meskipun sebatas dalam pemikiran? Bagaimana dengan bacaan shalat kita yang tak disadari terlalu nyaring sehingga mengganggu kekhusyukan jamaah lain? Bagaimana dengan hati yang dongkol gara-gara diimami dengan orang yang kita anggap tidak lebih berilmu dari kita? Bagaimana dengan senyum yang seringkali kita kikirkan? Dan sebagainya, dan sebagainya. Apakah itu semua bukan perbuatan zalim? Yuk kita tafakuri, jangan-jangan hal seperti inilah yang menjadi sebab terhalangnya keberkahan hidup kita. Mari kita bermuhasabah.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang menegerjakan kejahatan sebesar zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS Al-Zalzalah: 7-8)

Maafkan saya jika terkesan menggurui. Semoga penghujung Ramadhan ini bisa menjadi malam tua yang mengangkat dan meninggikan istigfar pada pangkal air mata kita. Amin.

Referensi: dari berbagai sumber

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Pikir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s