Jamuan


Aku merangsek maju, satu dua langkah, nyaris tengkuk, bahu, tungkai kami beradu satu sama lain. Sepatu terinjak, lelaki tambun berkumis tebal bak pagar taman, ianya hanya tersenyum kilat tanpa satu kata maaf. Aku, atau mungkin kami, tengah terjebak dalam riuh antrian orang-orang lapar, sebuah kerumunan terserak, tak lebih berbudi dari barisan bebek di rawa-rawa. Sebagian kami menyebut antrian ini sebagai pemenuhan aturan pribumi atas tamunya, yang entah dari mana dan kapan adat seperti ini dibakukan, yang otoritasnya entah milik siapa pula. Itu perkataan seorang pemuda berkacamata minus dan mengenakan tuksedo warna abu. “Jika kau ingin menikmati hidangan pesta, ya, salami dulu kedua mempelai. Kau bisa berakting sumringah dan memasang senyum semanis-manisnya seraya memberikan restu do’a. Selanjutnya jamuan ini milikmu”. Keterlaluan.

Dihadapan badanku—masih nyaris tengkuk, bahu dan tungkai kami beradu—telah berdiri sepasang remaja kasmaran yang tak henti-hentinya bertukar canda dan melempar-lempar senyum. Mereka menjegal satu detik saja kelengahanku, tanpa malu atau sekata permisi. Aku pikir cuma dijalan raya saja habitat gerombolan bermotor yang penuh kuasa, geng motor, atau klab motor, apa pula bedanya? Kuasanya menyingkirkan pengguna jalan lain, tak tergugat, dengan mengacung-acungkan pentungan menyala merah-kuning, kerlap-kerlip sirine, dibarengi bunyi klakson dan panji-panji klan kebanggaan. Sopan-santunnya: menepuk pundak pengguna jalan lain dengan lembut, lalu menyingkirkannya dengan senyum manis. Itu sopan-santun menurutmu? Terakhir kali kulihat gerombolan ini dipimpin sebuah sedan putih mengenakan bando kerlap-kerlip yang bersuara kucing melaung-laung.

Lelaki tua berdahi terang menoleh kearahku, sekilat ia tersenyum geli, lalu melanjutkan satu dua langkahnya. Pak Bagyo, ku memanggilnya. Sedari tangga-tangga kecil yang mengarah ke gedung militer ini kami bersama, dan bercakap-cakap tentang kemewahan hajatan. Ia telah berdiri satu meter lagi kearah keluarga mempelai, di satu anak tangga yang bersebelahan dengan taman kecil buatan, dengan bunga-bunga yang tumbuh seketika, beberapa cuma plastik, bebatuan mengelilingi sebuah kolam kecil, ditengahnya dua buah patung terbuat dari bongkahan es yang saling berpeluk. Sekilas cukup indah. Keindahan buatan yang dibuat-buat.

Usai keluar dari jebakan stand makan siang, kami bergegas mencari tempat duduk. Tak ada yang tersisa, di ruangan ini hanya ada tiga meja tamu dengan beberapa kursi. Sebagian besar rela mengunyah makan siang sambil berdiri, tertawa-tawa sambil mengobrol terkekeh-kekeh. “Hei, kambing sih wajar. Sekalipun mereka tak terkekeh-kekeh seperti kalian, hanya mengembik setauku.” Terpaksa berdesak-desakan lagi dengan orang-orang lapar ini, tentu saja kali ini lebih repot, tangan kiri memegang piring makan siang dan tangan kanan segelas air mineral. Inikah jamuan pesta modern di negri ini?

Diluar gedung kami beruntung menemukan kursi kosong, sekalipun boleh dibilang berdampingan dengan dapur, mungkin ini bukan untuk para tamu, tapi, Aah.. mau dimana lagi? Mengikuti tamu lain yang duduk-duduk di anak tangga? Atau menikmati makan siang di tubir ubin, mengotori celanamu? Ah, inikah jamuan pesta orang-orang terpelajar?

Selesai makan, kami kembali berjejal-jejal di dalam gedung, penasaran juga sebenarnya, ingin tau apa yang disediakan stand-stand yang kian menjadi gula-gula yang dikerubuti kumpulan semut. Sembari mencari makanan kecil penutup nafsu—orang menyebutnya cuci mulut, dengan buah-buahan segar dikiranya akan bisa menyegarkan pula isi perutnya yang nyaris hilang ruang, padahal orang yahudi saja yang konon pintar sudah membiasakan diri mendahulukan makan bebuahan di awal setiap santapannya—kami disuguhkan dengan pemandangan yang masih asing menurutku, orang-orang disini ternyata begitu rakus, seperti tak makan tiga minggu, selesai berjejal-jejal mencecap dan menikmati hidangan satu stand, satu sama lain bergantian berjejal mencecap dan menikmati hidangan lain setiap stand, satu persatu hingga seluruhnya memuaskan nafsu, meniadakan lapar melebihi kenyang hingga sayup-sayup mual. Dan, sebagian besar dilakukan dengan berdiri, ya, seperti kumpulan serigala yang berebut kijang nahas, berebut hak, mencabik leher, mengoyak daging paha, asalkan haknya terpenuhi, hak yang memiliki otoritas penuh, tak peduli ada hak lain selain itu. Inikah jamuan pesta ala barat? Barat yang mana? Setauku cara makan dengan sendok, garpu, pisau, dengan hidangan tertata pada satu buah meja besar, orang-orang duduk mengelilingi tubir meja dan menikmati jamuan dengan anggun, tanpa tergesa-gesa seperti seperti sekelompok serigala, itu yang dicontek anak-anak negri dari orang-orang Eropa dulu. Aku mulai khawatir dikemudian hari budaya purba malah akan dijadikan adat.

“Din, kamu bisa bayangkan disini ada keberkahan?” Pak Bagyo membuka obrolan, air mukanya menyimpul senyum seperti biasa, tapi entah apa arti senyumnya kali ini.
Saya hanya menjawab senyum sambil menikmati lelehan ice cream
Ia melanjutkan “Sunahnya kan dalam pesta seperti ini, fakir miskin dan anak yatim ikut menikmati, sedang disini, kamu lihat sekarang, adakah yang pakaiannya kusut atau kumal?”
“Ya, kalo di tempat semacam ini sudah bisa menjalankan sunah, tak akan ada lagi cerita kesenjangan, Pak. Lagi pula orang-orang sudah tak peduli dengan sepotong hakikat, mereka cuma butuh kulitnya, segenggam pengakuan, mungkin segunung pun masih kurang.”
“Betul, Din. Sepertinya kian maju ilmu pengetahuan seseorang malah kian menggugat esensi budayanya sendiri, tak ada lagi kebanggaan.”
“Tidak semua, Pak. Saya yakin kolam susu tak akan rusak hanya karena nila setitik, kecuali, mungkin nila setitik itu membentuk koloni baru untuk berevolusi, Hehe.”
“Semoga saja, Din, hanya nila setitik.”

Jl. Maribaya, 16 Juni 2013

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jamuan

  1. Lusi says:

    itu yang disebut standing party…lain klai kita bawa aja tiker trs makan diluar kan ada lapangan hijau tuh, enak banget kynya makan disana botraman…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s