Lena


Saya pernah memikirkan, tentang beberapa hal yang melampaui batas. Disini saya tidak akan berbicara antara benar dan salah secara mutlak, hanya sekedar belajar arif dalam menyikapi persoalan.

Dahulu, era labil saya pernah mengalami goncangan hebat, yang lambat laun menjadikannya roboh. Tak jauh berbeda dengan remaja lain yang tengah dalam pencarian jati diri, masalah terbesar yang dihadapi justru adalah hal kecil bagi Anda yang sudah melewati fase ini. Adalah “cinta”. Bukan cinta sejati antara Khaliq terhadap kekasih-Nya, tapi ini adalah satu rasa yang fana sebagai gerbang pembuka cinta itu sendiri, yang kita kira itu adalah cinta. Yang rentan akan tipu daya syetan. Yang dengan kerdilnya kita puja. Padahal cinta yang sesungguhnya belum akan menampakkan diri, atau mungkin tak akan pernah bisa nampak karena gerbang pembukanya telah diremangkan oleh “tipu daya” dan kebodohan kita sendiri.

Kemiskinan aqidah dan penempatan paradigma yang tak mendasar adalah hal utama yang pernah membuat saya terpuruk, termasuk remaja masa kini, atau mungkin juga Anda. Kita terlena dengan kemiskinan ilmu bahkan tak tertarik memperkuat aqidah. Kita terlena dengan segala macam kemudahan. Kita terlena diantara sela-sela sempit peraturan, padahal awalnya sekedar mencoba, mencecap sedikit kesalahan, lalu menikmatinya, hingga tanpa sadar satu gunung sudah dilahap dan anehnya sela-sela sempit itu pun melonggar dengan sendirinya. Dari sinilah muncul istilah “dosa termanis”. Betapa ironis.

Sungguh mudah bagi Allah untuk menjatuhkan suatu kaum. Na’udzubillah. Dan jika sudah terpuruk, Anda tahu, menyusun batu pondasi baru diatas reruntuhan itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan mendirikan benteng dilahan kosong. Bersyukurlah kita yang disadarkan dengan jalan yang baik. Kita juga beruntung yang akhirnya disadarkan walau harus melewati jalan keterpurukan. Aa Gym bilang, “kejadian sepahit apapun yang membuat seseorang semakin kenal, semakin yakin dan sungguh-sungguh mendekatkan dirinya kepada Allah, adalah karunia yang tak ternilai”.

Kembali pada kata “lena”. Pada satu sisi dia adalah sahabat bagi sebagian orang, di sisi lain dia bak sebuah bahaya laten yang siap menghancurkan kapanpun kita lengah. Dia punya sifat iblis, yang selalu menggoda manusia. Mengintai dengan sembunyi-sembunyi. Mencari-cari celah bawah sadar yang lupa mengatup. Meremangkan paradigma keburukan dan kebaikan pada korbannya. Anda tidak percaya sebuah kebaikan bisa disusupi oleh “lena”?

Orang yang baru bertaubat akan lebih sungguh-sungguh memperbaiki diri. Melakukan berbagai ibadah dengan khusyuk, dan semakin memperdalam ilmu-ilmu agama. Pada fase ini bukan berarti orang tersebut benar-benar telah berhati mantap, tapi justru sangat membutuhkan bimbingan. Saat-saat seperti ini si lena akan mudah menyusup lagi. Akan ada saat-saat dimana membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring, sekedar ingin membuat bangga kedua orang tua. Atau langkah demi langkah ke masjid yang disusupi perasaan riya. Atau terbuai pada satu kebenaran yang malah meremehkan kebenaran lainnya. Mengagungkan satu sumber ilmu dengan menolak sumber lain yang justru akan membuat dirinya terlihat tak berilmu. Dan akan menyedihkan lagi bila itu semua terjadi diluar kesadaran.

Sodaraku, jika hidup ini amanah, tidakkah kita sadar bahwa kita juga sering terlena oleh amanah. Dengan jumawa kita merasa semua pencapaian hidup adalah hasil ikhtiar dan do’a diri kita sendiri. Bukan karena do’a ibu kita? Yang tak pernah lelah terjaga di sunyi malam untuk tahajud, yang tak pernah kita tahu? Atau bukan juga karena do’anya seorang pengemis yang dengan tulus menerima lemparan uang receh kita? Bukankah itu berarti kita kalah? Apa lagi yang bisa dibanggakan?

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Pikir and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Lena

  1. luvzie says:

    ada saat kita terlena oleh iming-iming yang menggiurkan, pujian yang menerbangkan, harapan tentang suatu keindahan yang menurut kita sempurna… tanpa kita sadar itu hanya ujian. hingga akhirnya kita jatuh terperosok kedalam lubang menganga yang seharusnya kita waspadai keberadaannya…
    tapi Allah sayang sama kita dan menyadarkan kita agar tetap berpijak. tidak melayang-layang karena si lena…
    well, itulah hidup… sering dengar orang bilang ” kalau saja tahu akhirnya bakal seperti ini, aku ngga akan mau….”. tapi tidak kah kita sadar? kalo kita sudah tahu kita ngga akan belajar…

    Let the past become history of your life… our life…:)
    hwaitingggg…ganbatte…SEMANGKAAAAA….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s