Si Grandong Yang Sentimentil


Baru saja seratus meter keluar dari rumah, saya merasakan ada hal yang ganjil. Laju sepeda motor yang saya tunggangi mendadak seperti oleng. Tentu saja bukan over load karena sedang membonceng umi. Sebagai ibu rumah tangga yang sudah paruh baya berat badan umi masih terbilang ideal. Tak ada alasan bagi si Grandong untuk mengeluh meskipun saat ini dia tak segagah masa remajanya.

Rupanya si Grandong kurang hati-hati hingga kaki depannya menginjak paku. Kuda tua itu kini meringis dan menghentak-hentakkan kakinya ketanah. Saya terdiam sesaat, mengingat jarak paling dekat hanya radius satu kilo meter dari sini baru akan menemukan sebuah tambal ban. Saya menghela napas panjang sebelum akhirnya memaksa si Grandong berjalan pelan-pelan. Bukannya saya egois, (iba juga sebenarnya) hanya saja akan seperti jadi budak keadaan jika saya mengalah memapah lelaki tua ini sejauh satu kilo meter, untuk sekedar menghindari agar luka dikakinya tidak meradang hingga persendian. Atau mungkin sekedar memanjakan dia? Seakan kakinya lebih berharga dari kaki saya ini. Toh semahal apapun kakinya sudah pasti ada yang jual, sedang kaki saya?

Sepanjang jalan umi tak banyak bicara, dia tahu mood saya kurang begitu baik sejak ashar tadi. Beliau lebih memilih menjadi penumpang yang baik. Sementara pikiran saya flashback pada beberapa menit yang lalu, beberapa kali saya beristigfar mengingat emosi yang meledak-ledak seakan maung yang kehilangan mencek ngora-nya. Padahal bila dipikir dengan otak dingin, ternyata masalahnya sepele.

Setiap bulan umi selalu meminta saya mengantarnya belanja keperluan bulanan. Entah kenapa beliau lebih nyaman bersama saya dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Saya tidak pernah merasa keberatan, justru mensyukurinya. Ba’da ashar tadi seharusnya kami sudah berangkat, tetapi saya mendadak kesal setelah beberapa menit mencari helm kesayangan ternyata tidak juga saya temukan. Saya semakin geram waktu sadar tidak ada satu pun helm dirumah. Untung saja kemarahan saya hanya sebatas auman raja hutan yang kehilangan santapannya, sunyi bahasa, dan tak menjadikan manusia sebagai objek kemarahannya sebagaimana kemarahan manusia yang selalu menjadikan binatang sebagai objek kemarahan. Tapi tak ayal hal ini membuat suasana hati umi mendung, beliau mendadak menjadi pendiam menutupi karakaternya yang sumringah, selalu tak kehabisan kata.

Saya beristigfar lagi. Nanar diri ini karena terlalu lemah untuk mengendalikan emosi hingga gunung salju pun meluluhkan kaki-kakinya. Gunung salju yang bijak yang telah melahirkan saya. Saya berpikir, Allah mengingatkan saya karena kesalahan yang baru saja saya perbuat. Sungguh taman surga itu berada dibalik kaki-kaki gunung salju ini. Sayapun mulai menyimpul senyum dan berniat mempersembahkan sisa hari ini sepenuhnya buat umi sebagai penebus dosa.

Saat saya berpikir lagi, mengingat kebetulan (yang merumuskan sebuah pola) berkenaan dengan si Grandong yang beberapa kali pundung mana kala saya berbuat kesalahan. Sepertinya dia betul-betul hidup, begitu hidup, dan perasaannya menjadi terlalu sensitif untuk sebuah sepeda motor tua. Perilakunya saat ini seakan memprotes kesewenang-wenangan saya yang telah memecutnya dengan kasar, menungganginya dengan penuh kuasa, bukan lagi sebagai sahabat, melainkan objek kemarahan sebuah otoritas. Hal ini mengingatkan saya pada kejadian dua bulan yang lalu, ketika dia mendadak sakit dan membutuhkan rawat inap hingga beberapa hari. Ah.. mungkin dia cemburu pada si Rocky, yang sudah satu tahun ini membuat saya jatuh cinta.

Si Rocky adalah sepeda pertama saya, tubuhnya ramping dan memiliki otot-otot yang pejal dengan bahu yang lebar dan kepala sedikit menunduk. Dia seperti Arjuna, ksatria panengah pandawa. Sejujurnya sejak saya memiliki dia, saya makin jarang memerhatikan si Grandong. Saya memang belum bisa berlaku adil, sebagaimana Eyang Subuh yang konon “ceritanya” selalu adil terhadap ketujuh istrinya. Wajar saja jika si Grandong menggugat dan mencari-cari perhatian. Beruntung dia tak sempat melakukan demonstrasi dengan membentangkan spanduk dan menutup jalan tol. Harus saya akui, saya harus meminta maaf pada si Grandong, yang sebenarnya selalu menuntun saya untuk menjadi manusia.

Saya masih ingat ketika dia memberikan saya pelajaran pahit. Beberapa tahun silam sewaktu saya pulang kuliah, saya harus menunggu seorang teman hingga larut malam. Tentunya slogan menunggu dimana-mana nyaris sama, “adalah sesuatu yang menjengkelkan”. Tengah malam teman yang saya tunggu baru menampakkan diri dengan dingin sambil meracau mencari-cari penguat alasan, terang saja saya naik darah. Saya menghentakkan kaki dan memecut si Grandong penuh emosi hingga dia berlari sekencang-kencangnya. Dia berlari dengan takut, menggugat dengan pasrah, dan marah atas kesewenang-wenangan. Seperti anak panah yang membelah angin, melesat cepat. Dan tak bisa dikendalikan. Sekitar lima ratus meter dari dari kampus, bahu si Grandong menghantam moncong sebuah sedan berwarna merah. Saya bersyukur tidak ada korban, kecuali goresan panjang pada bibir sedan yang membuat wajah si pemiliknya merah menyala. Dan saya harus bertanggung jawab.

Kini, lagi-lagi lelaki tua itu kembali mengecam perbudakan atas dirinya. Seakan ingin mempertegas kedudukannya dalam perjalanan ini. Bilamana saya marah dia bisa lebih marah. Jika saya emosi dia akan menjadi-jadi. Sejatinya dia menginginkan saya untuk selalu menebar kasih. Dialah si Grandong yang sentimentil, yang membuat saya belajar untuk menjadi manusia.

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Si Grandong Yang Sentimentil

  1. Lusi says:

    Si Grandong itu emng punya ‘ruh’..jiwanya sprti menyatu dgn penunggangnya…
    dia bs ngrasa marah, cemburu, bhagia…
    satu hal, knp wktu ‘seseorang’ naikin dia, dia ngadat n mati berkali2? apa dia tdk mnyukai penumpangnya?
    #tanyakenapa

  2. Lusi says:

    hrs dibicarakan secara personal ya…hehe…
    baiklah kalo begitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s