Bukan Sekedar Nge-Blog


Tulisan kali ini bukanlah sebuah pembuktian diri pada hati nurani bahwa saya bisa konsisten nge-blog. Bukan pula hendak mendramatisir kekalahan raksasa Spanyol tadi malam yang memang belakangan ini “neunggar cadas” dan terpaksa harus mengakui kehebatan tim jerman dua leg berturut-turut.

Sejujurnya saya terinspirasi bahkan termotivasi dengan buku-buku karya Ippho Santosa. Belakangan ini dia mendoktrin saya dalam sela-sela hening yang tak jarang menjebak saya dalam lamunan (saya bersyukur jika itu positif). Dia mengganti hening itu dengan senyum, tawa, hingga beberapa kali berhasil menyindir sampai ke pangkal sensitifitas, merangsang potensi entrepreneur saya. Meski efeknya tak seperti cuci otak, paling tidak ini mampu membuat beberapa perubahan dalam diri saya.

Satu hal yang terkait dengan ini, yaitu keinginan saya untuk mencoba dan melakukan semua hal yang saya senangi (sepanjang itu positif) dan berusaha menempatkan “konsisten” sebagai rajanya. Hmm.. Kegiatan (hobi) yang saya senangi memang banyak, tetapi kalau harus menyortir lagi kegiatan mana saja yang berpotensi menghasilkan rupiah, ini yang tidak mudah. Akhirnya saya memutuskan tidak dulu menyorot hasil, akan tetapi mencintai dulu prosesnya.

Sore hari selepas pulang kantor saya membersihkan gitar bolong yang menggantung di tembok, lama sekali ditelantarkan, kini hanya menjadi rumah laba-laba kecil penjaring nyamuk (padahal dulu hanya dia kekasih yang paling setia). Saya putuskan untuk kembali bercinta dengannya, mengingat kembali teknik-teknik bermain gitar yang saya dapat secara otodidak dulu. Dulu saking inginnya bisa bermain gitar hingga orang yang baru kenalpun saya minta buat mengajari (teu boga kaera :)). Tidak ada keburukan jika saya tetap mempelajari ilmu ini, justru akan menyesal jika ilmu ini hilang tetapi saya belum sempat mengamalkannya.

Hobi saya yang baru (bersepeda) pun makin saya perdalam. Minimal sekali dalam seminggu wajib bike to work, karena dua kali dalam sepekan saya juga merutinkan diri berlatih sepulangnya beraktifitas. Walaupun hanya menempuh jarak kurang lebih 16KM dalam waktu 40 hingga 50 menit, tapi dengan beberapa tanjakan yang mendominasi medan ini cukup memeras keringat. Setiap hari sabtu juga menjadi jadwal wajib untuk berlatih, berbaur dengan pencinta sepeda yang hobinya mengikuti balapan serta beberapa atlet sepeda lokal, kadang atlet pelatnas pun ikut gowes bareng. Sungguh ini menjadi pengalaman berharga buat saya.

Terlepas dari dua rutinitas tersebut. Saya merasa kehilangan media untuk meluapkan emosi, gagasan, atau hanya sekedar ingin berbagi cerita. Mengingat beberapa media sosial saat ini sudah tidak lagi cantik dimata saya, saya membuka lagi blog. Melihatnya seperti ladang kosong yang siap untuk ditanam. Dan disini sayalah pemilik ladang. Saya mau nanam padi, jagung, singkong, atau (kasarnya) nanam ganjapun hak saya, Haha..

Saya membuka lagi blog yang sudah tiga tahun mati suri (hingga passwornya saja saya lupa) dan mulai menulis lagi. Disini saya bebas mengekspresikan diri. Mengangkat pengalaman sehari-hari menjadi sebuah tulisan, berbagi pengetahuan, atau sekedar mengeluarkan uneg-uneg, sekedar berceloteh, hingga menulis puisi (atau mungkin tak layak disebut puisi) yang sudah menjadi mediasi curhat sejak saya duduk di bangku sekolah. Dan saya mencoba konsisten. Itulah tantangan yang saya kira tidak mudah. Karena beberapa blogger kenyataannya tidak bisa survive dengan ujian ini. Teman-teman blogger saya sering menyalahkan kondisi akan ketidak konsistenan mereka nge-blog. Perubahan rutinitas, perubahan pekerjaan, perubahan status sosial, perubahan tanggung jawab, serta perubahan-perubahan lain termasuk perubahan dari rajin ke malas 🙂 yang mungkin menjadi alasan mereka. Persis seperti yang Ippho Santosa bilang “Orang kiri punya seribu alasan, sedangkan orang kanan punya seribu cara” 🙂 Padahal jika kita mengetahui manfaat nge-blog mungkin sedikitnya kita bisa termotivasi buat konsisten.

Nge-blog itu melatih kedisiplinan. Blog kita tidak akan ramai pengunjungnya jika kita tidak konsisten menulis. So, mulailah membuat target pencapaian posting, jika tidak mampu setiap hari paling tidak satu minggu sekali.

Nge-blog itu menyehatkan otak. Logikanya, menulis artikel di blog adalah menuangkan idea atau gagasan yang tentunya tidak akan terlepas dari kinerja otak. Anda bisa bandingkan orang yang otaknya sering dipakai dengan orang yang jarang menggunakan otaknya.

Nge-blog memperkaya pengetahuan. Tentunya Anda tidak ingin terlihat bodoh dengan membuat statement yang tidak mendasar bukan? Atau membuat informasi yang tidak relevan karena miskin ilmu. Yap. Betul sekali. Kuasailah artikel kita sebelum kita buru-buru mempublikasikannya, dengan mencari berbagai referensi, buku, atau mungkin dengan melakukan riset. Tepat sekali jika Ayu Utami bilang “Enam puluh persen aktivitas menulis adalah membaca”.

Nge-blog bisa menghasilkan uang. Sudah banyak blogger-blogger yang membuktikan ini. Untuk blogger pemula seperti saya, sudahlah.. jangan dulu mikir kearah sana, konsisten saja dulu menulis. Jika Anda mau merenung sejenak. Ternyata, orang-orang sukses itu tidak menjadikan uang dan ketenaran sebagai sebuah destination. Lihatlah yang berhasil menjadi raksasa IT saat ini, sejatinya mereka memang mencintai dunia IT dari kecil. Seorang blogger sukses, dia mencintai profesinya sebagai blogger. Seorang penulis terkenal, dia mencintai pekerjaannya sebagai penulis. Dan masih banyak lagi. Seorang blogger hebat yang layak mendapatkan acungan jempol karena kekonsistenannya (belum termasuk tulisan-tulisannya) yaitu pemilik Padepokan Budi Raharjo pernah membuat pernyataan terkait hal ini “I love doing things that I do”

Nge-blog itu media dakwah dan tempat bercermin. Mungkin Anda masih ingat dengan sebuah hadist yang berbunyi “Sampaikanlah walaupun hanya satu ayat”. Karena di negri ini mayoritas muslim, dan saya yakin 90% muslim di negri ini tahu dan memahami ilmu agamanya (semoga saja begitu). Tapi karena berbagai keterbatasan masing-masing, tidak banyak orang yang bisa mengamalkan ilmunya. Nah. Disinilah alternatifnya.

Dan masih banyak lagi manfaat lain dari nge-blog. Terakhir saya ingin mengutip perkataan seorang penulis hebat, Pramoedya Ananta Toer. Semoga saja bisa menambah motivasi kita untuk menulis.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita, Berbagi Pikir and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Bukan Sekedar Nge-Blog

  1. Om Jon says:

    Welcome back kang, happy blogging (again) 😀

  2. okelah wilujeng nge-blog 😉

  3. Lusi says:

    wilujeng nge-blog, keep posting good articles, i like your writing… really smart n well said…

    #couldbeoneofyourloyalreader;-)

  4. Lusi says:

    jgn.terlena oleh pujian…
    yg jelas penilaian aku objektif…

    #keepupyourgoodwork
    #senseiakanselalumengawasimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s