Benang Kusut


Di sebuah desa kecil, ada sebuah kampung yang sudah kehilangan identitasnya. Kampung yang sudah tidak lagi memiliki sawah-sawah hijau dengan pohon-pohon kelapa yang menjulang memaku sudut-sudutnya, atau kebun rambutan yang ranum setiap musimnya. Hutan bambu riuh yang memagar, membatasi hiruk pikuk penduduk pun perlahan menghilang, mucullah bangunan-bangunan kokoh menjulang. Pemilik lahan lebih memilih beberapa perak untuk menghedonkan diri dan keluarga, menggusur pagar pendingin desa kepada kaum kapitalis yang menjajahnya.

Mayoritas remaja kampung ini tidak menginginkan kenal dengan gedung perguruan tinggi, sekedar berjabat tangan pun sepertinya enggan. Padahal ini bukanlah sebuah desa miskin. Sebagian besar penduduknya “sebenarnya” petani (petani yang kehilangan sawah-sawah dan kebun-kebunnya yang hijau) beberapa waktu yang lalu, tetapi perak dan kemegahan mereka lebih banyak didapat dari barter dengan sawah dan lahan.

Setiap bulannya, penjajah memberikan kompensasi lima kaleng susu kental manis pada setiap kepala keluarga desa ini. Layaknya orang tua yang memaksakan otoritas dengan memberikan gula-gula sebagai penawar rengekan, padahal sejatinya dia tidak mengerti apa diinginkan balitanya itu.

Penghulu desa. Dia yang terpilih (bukan yang dipilih apalagi pilihan) beberapa waktu yang lalu karena tersinari cahaya sang bapak, yang menyihir pemikiran penduduk akan kebaikan politik dinasti. Mungkin juga dia tertolong karena kebobrokan rivalnya yang terlebih dahulu tercuat ke media. Apapun itu. Saat ini dialah yang semestinya bertanggung jawab akan balita-balita yang mengidap plek, asma, ispa dan kelainan paru lain akibat ulah entrepreuneur kotor yang tersenyum kecut saat membagikan susu. Penghulu desa juga telah ambil bagian atas hilangnya hutan bambu pendingin desa, sawah-sawah hijau, kebun-kebun rambutan, burung-burung pajar yang selalu berlomba dengan kokokan ayam, kambing-kambing yang mengembek di terik hari. Dan yang paling penting adalah dia yang harus dipertanyakan atas kampung yang sudah kehilangan identitasnya, tradisi yang sudah terkikis oleh pengaruh urban, penduduk yang tengah mendewakan hedonisme.

Saya heran. Jika Anda disini mungkin juga akan heran. Bagaimana tidak, disini ada perlombaan unik, yaitu “perlombaan teras terindah dan ruang tamu tercantik”. Ketika ada satu rumah yang sedang mempercantik diri, maka beberapa rumah lain yang ada di sekitarnya ikut berdandan, seakan latah, tak ingin kalah cantik rupanya :). Dari rumah-rumah yang cantik itu, anak-anak mereka keluar dan mempertontonkan simbol-simbol kejumawaan. Anak SMP bertubuh gemuk pendek mengenakan kaos bola dan jeans selutut (menutupi kulitnya yang cenderung gelap) dengan bangganya menunggangi Kawasaki Ninja keluaran terbaru, melaju lambat dalam kesibukan petang untuk berkerumun bersama teman-temannya diujung jalan. Remaja lain yang lebih tinggi dari anak ini berkerumun di sudut yang berbeda. Mayoritas mereka adalah buruh (mereka yang akhir-akhir ini hobinya berkerumun di jalan tol), yang masih menganggap Blackberry adalah simbol kehormatan tanpa mengerti esensinya. Sebagaimana orang-orang dahulu yang mengagungkan sebuah keris.

Ironis sekali jika saya terpasung ditempat seperti ini. Menerima perlakuan tidak menyenangkan karena dianggap sedikit lebih beruntung dari mereka. Kaget. Tiba-tiba saja ada kebun singkong dadakan di halaman rumah, tetangga yang baik membuat lubang sampah tak jauh dari muka rumah, tiba-tiba jembatan saluran air got terguling, hingga beberapa paku yang membocori ban sepeda motor. Semua itu hanya refleksi dari sikap hedon yang tidak sampai. Yang sepertinya sudah melekat kuat dengan penduduk kampung. Saya curiga, gaya hidup beberapa tokoh termasuk penghulu desa adalah justru yang memicu menyebarnya virus ini. Tidak mustahil jika mayoritas penduduk menjadikan mereka sebuah kanon, mungkin beberapa orang meninggikan mereka sebagai figur. Tapi saya hanya berharap ini semua akan segera berakhir, dan penghulu selajutnya bisa menyelesaikan benang kusut ini.

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita, Berbagi Pikir and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Benang Kusut

  1. Lusi says:

    tulisan kamu bagus banget…

  2. Zaharudin says:

    masa sih?
    alhamdulillah kalo ada yang bilang bagus mah 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s