Makan Ayam


Daging ayam. Siapa yang tidak suka makanan ini, hampir disetiap tempat makan lauk ini selalu disediakan dan tak jarang sering menjadi lauk yang paling dicari oleh penggemarnya. Tapi pernahkan Anda menemukan daging ayam yang sudah siap makan ternyata malah membuat Anda mual? Saya sering mengalaminya, dan hari ini adalah salah satunya.

Siang ini hujan yang turun dengan dramatis memaksa saya untuk makan siang di sebuah rumah makan yang tak jauh dari tempat saya bekerja. Tak ada lagi pilihan menu yang menggugah selera makan karena mungkin saya sedikit terlambat, kecuali pepes ayam yang kelihatannya enak. Biasanya dibeberapa warung makan, rumah makan, foodcart, dll. yang belum saya percaya tak akan begitu tertarik dengan beragam masakan ayam. Beberapa kali saya merasa tertipu, rasa daging yang hambar, bulu yang tidak bersih, daging bagian dalam yang masih berdarah-darah, hingga bau yang tidak enak yang seketika saja menghilangkan selera makan. Terlepas dari semua hal itu cuma ikanlah yang lebih jelas kehalalannya πŸ™‚

Anehnya kali ini saya tidak mau berprasangka buruk, mungkin aroma pepes itu yang lebih dulu mencuri pikiran bawah sadar saya :). Pertama mencicipi daging luarnya saya tidak begitu curiga, tapi waktu hendak memisahkan daging dengan tulangnya hilanglah nafsu makan saya. Warna daging bagian dalam yang berdekatan dengan tulang ayam berwarna merah gelap, bahkan berdarah-darah.. β€œAkhh.. lagi-lagi saya kurang beruntung!” Seketika saja lenyaplah selera makan saya.

Tak terkecuali produk branded. Saya pernah menemukan daging ayam yang berbau tidak enak dalam sebuah nasi kotak waktu acara pengajian Peringatan Maulid Nabi SAW, ironisnya merek tersebut sudah sangat popular, tak ada yang meragukannya. Kejadian serupa pernah saya alami pada sebuah foodcart di sebuah mall ternama, ironis bukan?

Terlepas dari enak atau tidaknya masakan ayam dan bersih atau tidaknya cara orang yang memasaknya, sebenarnya ada hal yang lebih penting yang ingin saya sampaikan. Pernahkah kita bertanya minimal pada diri kita sendiri β€œHalalkah ayam ini? Sedangkan kita tidak tahu siapa yang telah menyembelihnya, muslimkah? Dengan menyebut nama Allah kah dia menyembelih? Lantas bagaimana cara kita membuktikan kehalalan ayam ini?”

Pertanyaan ini pernah saya lontarkan pada Ummi saya dirumah, dan seperti yang saya duga beliau hanya bisa mengiyakan dengan ragu, seperti halnya ibu-ibu rumah tangga lain yang kurang begitu peduli akan hal ini. Dan ironisnya mereka semua muslim :(. Pernahkan kita sekedar bertanya pada penjual ayam tentang kehalalan ayamnya? Kenapa tidak? Tak peduli jawabannya nanti jujur atau tidak, paling tidak gugurlah kewajiban kita. Kalaupun enggan bertanya pada penjual ayam kenapa kita tidak menghindarinya saja, bukankah Rasulullah SAW menyuruh kita untuk meninggalkan semua yang ragu-ragu! Masih ada makanan yang sudah jelas kehalalannya seperti ikan, telur, dll.

Mungkin produk makanan lain yang sudah memiliki kemasan sangat mudah untuk dibedakan kehalalannya, salah satunya dengan melihat ada tidaknya logo halal dari MUI (walaupun itu saja tidak cukup menjamin). Tapi bagaimana dengan daging ayam atau daging hewan lain yang dijual di pasar tradisional?

Jika teman-teman punya solusi akan hal ini, jangan sungkan untuk sharing disini πŸ™‚

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita, Berbagi Pikir and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Makan Ayam

  1. Lusi says:

    itu krna km sll ragu2 sm ayam. jdnya kebeneran dapet ayam gt trs..hehe…
    jd vegetarian aja…dijamin halalan toyyiban… πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s