Tiga Pekan Bike to Work


Semenjak memiliki sepeda, niat saya untuk bike to work beberapa kali sempat mendominasi semangat pagi. Tetapi dorongan untuk hidup sehat, sederhana, mencintai alam dengan mengurangi polusi, menjadi pelopor gerakan bike to work di perusahaan tempat saya bekerja, dan semua motivasi terkait, sepertinya tak cukup kuat untuk melawan beberapa alasan dimana saya harus menyalahkan kondisi lagi dan lagi, hehe..

Suatu hari Si Grandong (sebutan untuk motor kesayangan :)) mendadak sakit dan saya tak mampu mengobatinya. Akhirnya terpaksa saya memberi surat rujukan ke sebuah bengkel motor tak jauh dari rumah. Sang montir memeriksa dengan teliti layaknya dokter yang sedang mendiagnosa pasiennya. Tak lama penyakit Si Grandong sudah bisa ditebak, tapi malang, Si Grandong harus di-opname beberapa hari karena membutuhkan perbaikan khusus, terlebih pekerjaan sang montir yang tengah ramai saat ini.

Senin pagi. Tak ada lagi alasan untuk bike to work mengingat Si Grandong yang biasanya setia mengantar saya bekerja, saat ini sedang terbaring kaku πŸ™‚ Saya berdoa agar pagi dan sore hari cuaca tetap cerah, dan hari-hari menyenangkanpun dimulai.

Bukanlah sebuah paksaan kondisi atau pilihan yang buruk yang saya rasakan selama menjalani bike to work, karena sebelumnya pun saya sudah mencobanya. Hanya saja biasanya cuma sekali atau dua kali dalam seminggu, dan sekarang saya lakukan setiap hari. Tanggapan teman-teman dan orang sekitar mengenai hal ini cukup beragam, ada yang mencibir dengan senyum sinis karna mungkin bertentangan dengan gaya hidup hedonisnya, ada yang sekedar memandang heran, tapi tak sedikit juga yang memuji dan mungkin termotivasi. Sejatinya saya tak ingin peduli dengan pendapat publik, entah itu baik ataupun buruk.

Satu pekan berlalu banyak perubahan yang saya rasakan. Saya lebih banyak minum air putih dari hari-hari biasanya dan tentu saja ini baik. Otot paha saya mengempal lebih kencang walaupun saya tidak melakukan latihan bersepeda tambahan (setiap selasa dan kamis sore pada hari-hari tanpa bike to work). Pada akhir pekan seperti biasa saya ikut latihan bersepeda dengan atlet kelas master Purwakarta, saat itu trek yang dilalui cukup menantang, jalan baru-munjul-cigangsa-tanjung garut-kopo-sadang-jalan baru. Beberapa tanjakan yang curam, turunan, dan diakhiri dengan medan yang mendorong kami untuk mengadu kecepatan, kami lalui dengan waktu kurang lebih 2jam. Dan luar biasa, saya merasakan kemampuan saya meningkat dibanding hari-hari sebelumnya, kali ini saya bisa sedikit melampaui para master dan mampu mengimbangi peraih juara kelas senior di Polygon Xross Country Purwakarta tahun lalu, suatu perubahan signifikan menurut saya πŸ™‚

Sore harinya saya mendatangi bengkel motor tempat Si Grandong dirawat. Dia sudah terlihat sehat, namun menurut sang montir beberapa komponen motor ada yang terpaksa harus diganti, alhasil biaya pengobatan Si Grandong cukup membuat saya kaget. Karena tidak membawa uang cukup, saya hanya membayar sepertiganya dulu dan berjanji akan melunasinya awal bulan (dan Si Grandong pun terpaksa menginap lagi). Sebenarnya bukan saya tidak bisa melunasinya, tapi ada kekecewaan setelah saya melihat nota perincian biaya, banyak hal yang setahu saya tidak perlu dilakukan dan seharusnya tak perlu diganti, dan kalaupun harus diganti tidak ada salahnya mengkonfirmasi dahulu yang punya motor. Bukan berarti saya sok tahu, cakep-cakep gini saya lulusan STM Teknik Otomotif, hehe..

Dua minggu selanjutnya saya tetap bike to work. Tapi ternyata setelah dihitung-hitung biaya pengeluaran saya lebih besar dibanding waktu menggunakan sepeda motor. Loh kok bisa? Logikanya kan malah bebas biaya bensin? Betul tidak perlu beli bensin, tetapi jadi ada biaya makan siang karena biasanya saya makan siang dirumah πŸ™‚ kebetulan jarak dari rumah ke tempat kerja tidak terlalu jauh hanya saja sedikit menanjak. Pernah mencoba melawan terik matahari menggunakan sepeda untuk makan siang dirumah, tapi ternyata setibanya di kantor baju saya malah basah oleh keringat, malah jadi tidak nyaman. Inilah yang saya sebut alasan untuk menyalahkan kondisi, hehe..

Terlepas dari alasan apapun, suatu saat saya ingin konsisten bike to work.

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita, Gowes and tagged , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Tiga Pekan Bike to Work

  1. Lusi says:

    klo mau bike to work tnpa ada tmbhan biaya, you better bring your lunch from home…
    ok kan?!

    • zaharudin says:

      Eh.. ada yang comment πŸ™‚
      bisa sih ci, cuma ga tiap hari menu dirumah bisa dibawa pagi terus dimakan siangnya. kadang aku masak telor sendiri atau rebus mie instan dulu, tp bagaimanapun makan dirumah tetap lebih enak hihi
      rumit kan? πŸ˜€

  2. Lusi says:

    ya sih…

  3. asyer says:

    kalau gitu, agan pindah rumah dekat kantor mantap kan ide dari saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s