Pentingnya Sebuah Bell untuk Si Pagar Besi


Suatu hari seorang pemuda hendak bertamu ke kediaman gurunya. Sang guru adalah seorang laki-laki berwibawa, dosen kharismatik yang tak ayal lagi sering menjadi sosok inspiratif sekaligus motivator baginya. Lama sudah tak bersilaturahmi rindu sekali rasanya, ruangan yang selalu hidup, senyum dan tawanya yang khas, serta sosok guru yang pandai menempatkan diri, sahabat, dosen dan orangtua yang tegas.

Selepas magrib, setelah beberapa menit larut dalam antrian pembeli martabak, pemuda ini bergegas menuju kediaman sang guru. Walau sepeda motornya tak bisa memberi harapan tiba lebih cepat, akhirnya tibalah si pemuda pada sebuah perumahan. Bukan perumahan elite, hanya saja sebagian besar penghuninya sudah memodifikasi rumah mereka. Ada yang meninggikan atap-atap, menambah beberapa ruangan menjulang ke atas, ada juga yang membabat habis jatah hidup taman kecil depan rumah untuk dialihfungsikan sebagai ruangan serba guna. Selain itu, trend “lomba pagar tertinggi” pun sepertinya mulai mewabah, entah terkait masalah keamanan atau hanya sekedar gengsi berdalih privasi individu.

Pemuda tadi beberapa kali mengucapkan salam di depan pintu pagar, tapi sepertinya suara TV tuan rumah lebih keras daripada suaranya. Sebenarnya pagar besi ini tak terkunci dan si pemuda bisa membukanya lalu mengetok langsung pada pintu rumah mungkin suara salamnya akan bisa lebih terdengar. Tapi rasanya tidak sopan membuka pagar dan memasuki teras tanpa izin, tak terlepas dari seorang murid ataupun orang baru.

“Seandainya yang punya rumah sadar akan pentingnya sebuah bell, atau memang ada..? tapi dimana..?” kata si pemuda sambil mengamati dinding pagar yang polos. Mata dan tangannya mencari-cari sebuah tombol, memastikan ada tidaknya sebuah bell.

“Ah.. terpaksa aku telpon saja” pikir pemuda itu, padahal tadinya Ia ingin memberikan surprise.

Hatinya mulai kesal setelah beberapa kali menelpon ternyata tidak juga bisa tersambung, dia pun mencoba lagi mengucap salam lebih keras sambil mengetok-ngetok pagar. Tapi tak ada yang berubah, tak ada seorangpun yang mendengar ucapan salamnya, sekalipun juga tetangga sang guru.

“Rupanya hari ini aku tidak berjodoh..!” kata si pemuda penuh kecewa setelah dua puluh menit berdiri tanpa ada yang menghiraukan. Dia menghidupkan kembali motor butut kesayangannya. Lesu sekali rasanya, kerinduan akan gurunya tak tersambut hanya karena hal sepele seperti ini. Kotak kecil di leher sepeda motornya masih tergantung, martabak keju yang mulai kehilangan kehangatannya.

Sepanjang jalan pikirannya terus terpaut, hatinya mengumpat, menerka-nerka berbagai kemungkinan dari keadaan yang dialaminya beberapa menit tadi.
Gaya hidup modern memang tak jarang membawa virus individualistis, menumbuhkan rasa saling curiga bahkan mungkin dengan tetangga sekalipun, mempertegas batas-batas privasi dengan meninggikan pagar rumah, mungkin tujuannya baik tapi tanpa disadari hal itu jadi mempersulit silaturahmi. Semakin tinggi pagar besi, semakin memperjelas status sosial kita, segan dan enggan rasanya bagi si miskin untuk bertamu pada rumah si pagar besi. (Apalagi yang tidak memiliki bell) 🙂

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s