Anakmu Sebagai Investasi Duniawimu?


Sejenak mari kita hayati puisi yang sangat indah karya Kahlil Gibran ini:

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri Sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup melesat pergi.

Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap

Ahh.. indah sekali puisinya bukan? 🙂 Keindahan untuk jadi bahan renungan. Sungguh, merenung adalah sebuah laku seni, tak percaya? Buktinya ada sebuah patung yang fenomenal dengan fose duduk termenung, hehe..

Seorang salaf berkata, “Berfikir sesaat lebih baik dari pada beribadah 60 tahun”.

Baiklah, bahan renungan selanjutnya ada sebuah kisah memilukan menurut saya.

Berawal dari kisah nyata, seorang perempuan berumur 27 tahun yang bekerja pada sebuah perusahaan, sebutlah namanya Shita. Anak pertama dari tiga bersaudara itu sudah 3 tahun bekerja sejak dia mendapat gelar Sarjana Ekonomi.

Hampir satu pekan ini riak mukanya muram, mendung seperti awan di musim hujan. Sebutlah Adji, laki-laki sederhana yang sudah setahun ini satu kantor dengan Shita, dan sungguh Ia pula yang membuat hatinya gundah. Satu bulan terakhir kedekatan Adji terasa lebih intens walaupun masih tak lebih dari seorang sahabat, Shita pun tak percaya dengan kesungguhan Adji hingga laki-laki rupawan itu bertamu kerumahnya, berkenalan dan bercakap-cakap dengan kedua orangtuanya. Inilah kali kedua pertemuan mereka.

Adji adalah tulang punggung keluarga, kehadirannya makin dibutuhkan setelah beberapa bulan ini sang bapak sakit-sakitan. Terlebih ekonomi keluarganya tak bisa dibilang cukup jika hanya mengandalkan gaji kuli kantor seperti Adji, miris memang melihat kenyataan sang ibu harus menjadi seorang tukang sapu pabrik untuk menggantikan posisi sang bapak, tapi itulah kenyataan. Itu pula yang menjadi alasan dia tak mau bekerja diluar kota.

Sejak rencana pernikahannya gagal setahun yang lalu, dia bertekad tak ingin lagi berpacaran, bukan hanya karena dia telah sadar bahwa seorang muslim harom hukumnya berpacaran tapi mungkin karena deretan kekecewaan yang sudah membuat dia jera.

Nasehat dosennya satu tahun yang lalu masih terngiang di telinga Adji,

“Adji.. Jika kamu mau selalu sehat, ingin kaya, dilancarkan rezeki, hidupmu berkah.. jawabannya hanya satu, MENIKAH!”

Terlebih setelah dia membaca buku “7 Keajaiban Rezeki” karya Ippo Santosa Sang Pakar Otak Kanan, Adji menemukan semangat baru untuk menikah. Rencananya sederhana, Ia hanya ingin waktu kedekatannya dengan Shita sesingkat mungkin. Selain meningkatkan kualitas dirinya dimata Sang Maha Pengasih, paling tidak niatnya ingin direalisasikan dalam 6 kali pertemuan: berkenalan dengan Shita, mengenal keluarganya Shita, mengenalkan pada keluarganya sendiri, menanyakan keputusan Shita, jika setuju pertemuan ke-5 dan ke-6 adalah lamaran dan akad nikah. Adji tak menginginkan adanya pesta pernikahan, paling tidak ada dua alasan: pertama, Adji memang tidak mempunyai cukup budget untuk pesta dan tak ada yang bisa dia andalkan, yang kedua, seandainya pun Adji memiliki cukup uang untuk pesta pernikahan, alangkah baiknya uang itu digunakan untuk DP rumah atau keperluan hidup lain pasca menikah.

Singkat cerita, rencana Adji sudah berjalan sampai pada pertemuan ke-4, kali ini mereka bertemu di sebuah rumah makan sunda. Suasana hati yang riang terlihat dari senyum dan senda gurau mereka dari sejak mereka bertemu, terlebih suasana rumah makan yang berada di daerah perbukitan jalan menuju salah satu tempat objek wisata alam, view bukit-bukit dan pesawahannya begitu asri dan sejuk seperti memberikan terapi ketenangan.

Hingga perlahan waktu berubah sunyi, bahkan terlalu sepi, mungkin degup jantung Shita pun bisa terdengar oleh Adji.. Pembicaraan Adji mulai membahas masalah perasaan, masa depan dan tentunya keputusan Shita yang dinanti-natikan Adji satu pekan ini. Tapi sepertinya Shita enggan membicarakan hal ini, dia terdiam sebentar untuk menjawab pertanyaan Adji yang halus namun dalam, begitu berat rasanya hingga Shita seperti kehilangan kata-kata sebelum akhirnya dia angkat bicara.

“Aku bingung harus mengatakan apa..” suara Shita lebih pelan dan sedikit serak.

“Apapun keputusanmu aku terima.. seperti yang sudah aku katakan, keluarga aku telah setuju dan bahkan aku baru melihat Bapak seramah itu pada perempuan yang dikenalkan anak-anaknya. Kalau keluarga kamu setuju kita segera ke tahap selanjutnya, dan seandainya pun tidak, kita tetap masih bisa berteman baik..” Adji mencoba membuat suasana menghangat.

“Sebenarnyaa.. Mama aku tak setuju” jawab Shita seperti mengiba

“Alasannya?” Adji mencoba bersikap wajar.

Shita terdiam lagi sejenak kemudian melanjutkan pembicarannya,

“Aku juga sama seperti kamu, tulang punggung keluarga, aku masih harus membantu orangtua, adik-adikku masih kuliah juga ada yang masih sekolah, dan kadang jika usaha Ayah sedang rugi, aku pula yang diandalkan.. jika kamu menginginkan menikah dalam waktu dekat aku tak bisa, salah satu diantara kita harus berhenti bekerja. Mama aku malah menyuruh mencari laki-laki lain diluar kantor, katanya, zaman sekarang sulit mencari pekerjaan, lagian posisi aku sudah enak, gaji juga sudah naik.

Maaf yaa.. kamu tak apa-apa kan?!”

“Tak apa-apa..” jawab Adji lalu terdiam, dahinya sedikit berkerut.

Adji tak menyangka kata-kata itu bisa keluar dari mulut Shita. Bukan dia tidak siap menerima penolakan Shita, tapi dia tak habis pikir, secara ekonomi keluarga Shita jauh lebih berkecukupan dibanding keluarganya, Shita disekolahkan dan kuliah di universitas ternama, ayahnya seorang wirausaha dan bahkan Adji sudah punya niat ingin berlajar padanya. Jika dimusim penghujan seperti sekarang, terkadang Shita ngantor diantar-jemput sedan mengkilap milik sang ayah.

Ahh.. membuat iri para buruh saja, mereka yang tak mampu bersyukur 🙂

Perasaan Adji berubah iba ketika terpikir seandainya dirinya berada diposisi Shita saat ini, seraya hatinya bicara tanpa sadar,

“Kasihan sekali.. kamu harus menikah dengan laki-laki mapan jika ingin menjaga keegoisan orangtuamu atau menunggu sampai adik-adikmu lulus kuliah baru kamu bisa menikah. Kebayang.. adikmu yang paling kecil baru kelas 6 SD, usia berapa kamu menikah..?

Dan bukannya perempuan yang sudah menikah adalah mutlak tanggungjawab sang suami? Bagaimana jika suamimu nanti tidak mengizinkan kamu bekerja lagi, apakah keegoisan orangtuamu akan menyuruhmu bercerai..?”

Lamunan Adji terhentak ketika Shita memanggilnya sedikit keras, “Adji! Adji..! kamu tak apa-apa?” rupanya itu pertanyaan Shita yang ketiga kalinya

“Ah.. tak apa-apa” kata Adji setengah memaksakan senyum.

“Kita masih bisa berteman baik kok, hanya saja.. mungkin tak akan sedekat hari-hari sebelumnya” lanjut Adji.

Shita tersenyum kecil, suaranya lirih mengucapkan terima kasih, kemudian Adji mengajaknya pulang.

Sekian.
………………………………………………………………………………………………………………………………….

Pembaca yang budiman, yang dari tadi menghanyutkan diri dalam alur cerita, silakan ambil segelas air putih, minum dulu biar sedikit tenang, haha.. berlebihan sepertinya. 😀

Tapi saya harap teman-teman bukanlah salah satu pembaca yang hanya ingin menghabiskan rasa penasaran, dengan raut muka flat, tak sabar mengerak-gerakkan kursor kebagian page paling bawah ingin segera menyimpulkan isi cerita hehe..

Seperti itulah kira-kira yang sebenarnya terjadi. Salah satu dari sekian banyak masalah yang jarang sekali menjadi bahan pembelajaran bagi para orang tua maupun para calon orang tua seperti saya, sebagian menganggapnya hal biasa, sebagian lain berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan mereka berpikir tahu yang paling baik untuk anak-anaknya.

Mari kita pikirkan, apa sebenarnya ekspektasi kita terhadap anak-anak kita?

Apakah biaya membesarkan anak dari bayi hingga dewasa dan mendidik dari TK hingga Unerversitas adalah investasi? Hingga akhirnya kita menuntut imbal atas apa yang sudah kita investasikan?

Bukankah kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua juga?

Dan bukankah anak adalah amanah? Dan menyia-nyiakan amanah adalah dosa besar?

Saya setuju dengan Ustadz Yusuf Mansur jika dikatakan bahwa anak adalah investasi akhirat, sebagaimana sebuah Hadist yang berbunyi:

“Apabila seorang manusia meninggal dunia maka terputuslah semua amalnya, kecuali 3 hal: shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.”

Tapi apakah layak kalau mereka menjadi perangkat investasi dunia?

Mari kita menafakurinya!

#referensi pelengkap dari beberapa sumber

Advertisements

About Zaharudin

Setiap Orang Adalah Raja
This entry was posted in Berbagi Cerita, Berbagi Pikir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s