Sebuah botol bertuliskan Elizabeth Green Tea

Ada getir yang menggeletar, saat menemukanmu kembali pada pagi yang gugur. Terjebak dalam ruang yang kilau tempat kau menampung titik-titik air mata untuk menyulam pelangi. Udara lampau membisikan elegi, lirih sekali. Memelukku dengan ganjil, lalu melepaskan satu persatu benang perekat kenangan. Purba sekali

Aku diam, menerka-nerka sasmita yang tengah sibuk bertukar puisi dengan Deja Vu yang kau udarakan. Ada rindu yang biru muda tergelincir dari pelipis lalu berdenting pada dada yang bising. Perlahan, wangi itu lebih sakit dari hening yang kembali luka, sakit sendiri lebih semerbak dari parfum yang mengudara.

18-05-2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | 1 Comment

Wajah

Kita bisa menemukan cermin pada wajah-wajah orang di jalanan: pada rupa tergesa dengan panji tingi-tinggi, atau muka huru-hara yang berurat keseakanan menunggangi wajah demi wajah, atau wajah bisu para musyafir yang lupa cara membuka mata atau tertinggal bersama hewan gembala, atau, pada langit yang berjalan bersama angin atau daun hijau yang tanggal, atau wajah Rama yang menggiring Shita di hari pembakaran, atau wajah yang menunggu wahyu untuk tersenyum, atau wajah Shita yang menemukan cinta dalam wajah kesepuluh sang prabu, atau, wajah dari wajah kesekian yang entah milik siapa.

Kita masih berjalan bersisian. Aku masih mencari wajah mana yang memendarkan bayanganmu, sedang bayangku memantul pada wajah anakmu yang demam karena pada jam tangannya cintamu berdetak di satu dua angka.

Aku masih mencari wajah mana yang memendarkan bayanganmu. Ditikungan, sayup-sayup Dasamuka mewejangkan sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

07-05-2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Sebelum senja tiba di beranda

Ilalang-Senja

Gambar dari Google

Sebelum pelangi menumpahkan isi dadamu, dan kaki-kaki gerimis melangkah jauh.
Sebelum waktu membuat jeda, dan burung-burung merindukan sarang.
Sebelum pelukan senja berubah dingin, dan pikiranmu tak sempat memahaminya.
Sebelum sepi meriap, dan menjadikanmu teka-teki yang bunyi heningnya paling nyaring.
Sebelum kata-kata ini lebih dekap dari rindu yang kau hambur-hamburkan sehari tadi.

Aku ingin hadir di ingatanmu, untuk menanyakan bilangan senyum yang kau simpul hari ini. Kau berhak membaginya sesukamu : berapa banyak milikku, mu, dan DIA

Pulang, 5th May 2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Rindu

Betapapun rupa cinta yang Kau rahasiakan itu mewujud kata, hurup-hurup manakah yang akan Kau tinggikan.
Betapapun rindu ini berubah luka, berapa ribu cahaya lagi isi dada ini terus akan Kau basuh, berapa laksa malaikat lagi yang Kau titah luruhkan hitam di hati ini.
Betapapun tak layak aku bersimpuh, Kau tawan juga aku dalam kasih-Mu.
Betapapun, hidupku, matiku, tak juga Kau ridhoi; apalah arti rindu ini. Apalah artinya, aku

Pulang, 28-04-2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged , | Leave a comment

Subuh yang haru

“Kadang Allah menunjukkan kasih sayang-Nya dengan cara sederhana.”

Fajar masih muda, sulur-sulur putih selalu setia menandai pagi. Selepas perjumpaan rutinku, tubuh ini rasanya tak hendak beranjak, lirih doa masih berdenging dalam hati. Belum juga kering lelehan malu, rindu, dan syukur, yang tetiba tak mampu dibendung kelopak mata.

Masih tergelar satu sajadah disebelah kananku, diamnya mengaminiku. Sejak kuikrarkan diri kala itu–“akulah imam, hadir ataupun tidaknya seorang makmum hanyalah perihal waktu”–akan selalu kusiapkan sajadah sampai pemiliknya tiba.

Ummi menghampiriku, mengaduhkan alergi yang membuatnya tak bisa tidur, menanyakan obat dan seperti biasa kata-katanya kesulitan menemukan titik. Aku tersenyum memerhatikannya dan menggeleng, iapun pergi. Kumasuki lagi alam hening yang sempat terjeda hingga adzan berkumandang. Beranjak mengambil wudhu tanpa memerhati apa-apa, tiba di depan kamar terkejut melihat ummi lagi shalat di sajadah yang satunya, aku tunggu hingga selesai–seperti dugaanku, sunah qabliyah–kemudian ia iqamah dan mempersilakan aku mengimaminya.

Subhanallah, mataku basah. Lututku berdenyut. Lapalanku bergetar. Diantara entah khusyuk ataupun tidak teringat satu surah yang sempat dimintakan menjadi mahar oleh seseorang, kubacakan ayat itu, perlahan, lengkap dengan segala rasa yang bermuara didasar hati.

Ada sujud yang tak ingin bangkit, syukur yang terluah dalam hening tasbih “Subhanaka…”

Selepas salam, kutumpahkan semua yang kutahan-tahan sepanjang sholat, kubenamkan wajah pada pangkuan ummi, ia meyambutku dengan tangis, mengusap dan mencium kepalaku seraya doa terlapal tanpa jeda–dan kuharap kali ini ia tak menemukan titik.

Sejenak hening, masing-masing larut dalam doa yang teramat rahasia. Subhanallah.

08th April 2015

Posted in Berbagi Cerita | Tagged | Leave a comment

Penebus Rindu

Akan selalu kuingat, perjalanan ke bulan yang telah lama kunanti
Saat waktu begitu purba, kata-kata luruh dalam dimensi yang baru saja kutemu, sengit dalam teka-teki tentangmu, tentangku
Kapan kita akan sampai, Puan? Pada daratan sunyi yang dengan payah telah kau ciptakan, untuk ini pulakah bisu dan beku airmatamu kau perah?
Tempat apa yang kau tuju sebenarnya, Puan? Apa boleh sejenak aku singgah diantara jarum detik arlojimu? Atau jika ruang diantara helaan napasmu tak lagi bertuan…
Akan selalu kuingat, Puan
Perih panjang yang kau hidangkan malam ini, adalah penawar rindu yang meluruhkan dinding-dinding waktu
Tak ada kata mampu terluah, tak ada hurup sanggup menyulih, perih ini lebih indah dari bening rindu sepasang mata bidadari
Akan selalu kuingat, Puan

20th March 2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment

Pertapa yang merindukan matahari

hari tak lagi sama,
waktu hanyalah perjalanan teka-teki penyekap bara rindu,
penyulut angin sepi
ada sapa yang kian asing, syukur yang menyublim dalam kabut pagi yang likat
tak ada lagi garis senyum di wajah waktu, simpul yang selalu dicemburui bunga-bunga taman itu
tak ada lagi yang kutemukan selain hamparan detik-detik mati, menyasmitakan sebuah keniscayaan
isyarat mempersila hening mengantarmu pulang
“Sudah tiba saatnya Aku mengambil apa yang menjadi milik-Ku”

ah, berdiri disini, memunguti reruntuk yang dahulu pernah kurengkuh utuh
menjelma embun yang tak pernah letih menanti pagi

18th March 2015

Posted in Berbagi Rasa | Tagged | Leave a comment